Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Ada yang pernah notice kalimat di atas ketika buka Google scholar page?
Saya personally ngerasa kalimat ini keren sekali. Kalimat seorang scientist besar, Isaac Newton, “If I have seen further it is by standing on the shoulders of Giants”. Ga cuma confident, tapi juga humble. Ga cuma humble, tapi juga confident.
Baru beberapa hari yang lalu saya buka wikipedia tentang Isaac Newton. Dan saya baru tahu tentang conflict Isaac Newton dengan Robert Hooke over optical discoveries.
copy paste wiki:
In late 1668, he was able to produce this first reflecting telescope. In 1671 the Royal Society asked for a demonstration of his reflecting telescope. Their interest encouraged him to publish his notes On Colour, which he later expanded into his Opticks. When Robert Hooke criticised some of Newton’s ideas, Newton was so offended that he withdrew from public debate.
copy paste resource lain:
In the first of a series of bitter disputes, Newton locked horns with the society’s celebrated curator of experiments, the bright but brittle Robert Hooke. The ensuing controversy, which continued until 1678, established a pattern in Newton’s behavior. After an initial skirmish, he quietly retreated. Nonetheless, in 1675 Newton ventured another yet another paper, which again drew lightning, this time charged with claims that he had plagiarized from Hooke. The charges were entirely ungrounded. Twice burned, Newton withdrew.
In 1678, Newton suffered a serious emotional breakdown, and in the following year his mother died. Newton’s response was to cut off contact with others and engross himself in alchemical research. These studies, once an embarrassment to Newton scholars, were not misguided musings but rigorous investigations into the hidden forces of nature. Newton’s alchemical studies opened theoretical avenues not found in the mechanical philosophy, the world view that sustained his early work. While the mechanical philosophy reduced all phenomena to the impact of matter in motion, the alchemical tradition upheld the possibility of attraction and repulsion at the particulate level. Newton’s later insights in celestial mechanics can be traced in part to his alchemical interests. By combining action-at-a-distance and mathematics, Newton transformed the mechanical philosophy by adding a mysterious but no less measurable quantity, gravitational force.
Yang impressive dari kejadian ini adalah… who would have thought?
Seorang Newton, bisa juga ngalamin 2x offended, lalu withdrew dari public debate (baru tau, life was tough during those days ternyata ya). Lalu, what did he do? He let it go and started to focus on alchemy… And? what happened next? Sebuah pintu kesuksesan yang lain terbuka
Hidup itu memang diisi naik dan turun. Semuanya adalah part dari grander plan yang udah dibuat sama Yang Maha Kuasa. Ketika masa-masa down menerjang, kita mungkin sering ragu bahwa semua kesulitan ini tuh pada hakikatnya adalah awal buat kesuksesan yang mungkin ga disangka-sangka. Kalau dihibur, kita mungkin kadang mikir, “Yah, teorinya memang begitu, tapi kan…”
Teman, nih contoh nyatanya. Dari “maenan” Optics, kesandung, lalu jadi Alchemist jagoan… Rencana Allah itu memang indah… Percaya deh… Rencana Allah itu pasti indah…
*bagi yang kerja keras, tentu saja
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Arfika is currently under construction!
Fixing up her mind…
Fixing up her soul…
Fixing up her schedule…
Fixing up her lots of things…
Dimulai dengaaaaaaaaan… menjadi first-timer blood donor… today!!! Ternyata menyenangkan dan cepat *ketagihan mode*. Bahagia. “Give blood save life” campaign ternyata works for me
To cheer me up and give more positive perspective to start a new.
Betul, teman-teman… Due to a SeRieS of (Un)FortuNatE EvENTs… (jadi pengen nonton lemony snicket’s lagi), i feel that it’s time to start a new. Ga tau mau dibilang fortunate atau unfortunate. Terasa sakit sih, tapi saya yakin this will lead to better options, better path, dan better-better yang lain, insya Allah (amin). Jadi, karena hal-hal (un)fortunate yang sulit dijelaskan di sini, dengan segala kerendahan hati dan pikiran yang terbuka, i’m opening myself, widely, to any suggestions, critics, recommendations (be it from website, book, your own thoughts, etc), of things that can improve myself and my future… as a person, as a research student, as a team player, as a woman, as anything you can think of…
Berikut breakdown problem saya… *yang so far bisa diidentified
1. Time Management
Sharing aja, so far, selama sebulan balik jadi student lagi, saya jadi sadar kalau belajar itu berkali-kali lipat lebih meras otak daripada kerja =P Dan karena ini belajar yang supervised-tapi-independent, tampak-cukup-waktu-tapi-paper-yang-kudu-dibaca-ada-banyakkkkk, saya perlu time management yang super efektif n efisien. Dulu waktu kerja masi bisa multitasking kerja sambil online. Sekarang No No No. Ga sanggup multitasking T.T Ga bisa nyerap konsep yang dibaca. Ga bisa kerja cepat.
Solution #1: So… the simplest things to do adalah… reduce jam terbang online significantly, dan reduce frekuensi mengecek email personal menjadi 3x sehari saja. Pagi-pagi saat baru datang. Siang saat break. Dan malam saat sudah pulang. Drawback? Jadi less responsive ngurus kerjaan lain. Tapi gpp deh, sekalian menjauh dari sesuatu yang sudah terlalu di-”cintai”, obsessed, hingga akhirnya jadi tidak balanced, dan efeknya, one (un)fortunate event. Perlu maintain certain distance biar tetep bisa cintai jalan itu, tapi ga obsessed! Tetap bisa cintai jalan itu, tapi tetap balanced! Tetap bisa cintai jalan itu, DAN bahagia ngejalaninnya
Perlu copy strategi Stephen Covey 7 Habits kali ya? hehe.
2. Mood & Low Morale Management
Perumpamaan mood nih ya, laut yang tenang… tapi kalau ada patahan yang bergerak (less likely event), jadi tsunami gede (yang makan korban). Pertanyaannya, bagaimana caranya, supaya walaupun ada patahan yang bergerak, ga jadi tsunami?
Solusi #1: no solution yet
Kalau low morale management, when things go wrong, or at least, not as expected, ppl tend to get disappointed. And it will be reflected on their facial expressions, their talkings (content and gesture), their reactions to events, etc. Biasanya, yang paling parah kenanya tuh part talkings (case-ku). Somehow, jadi takut ngomong. Soalnya kalau ngomong, ntar yang keluar kata-kata yang beraura negatif, keluhan, complain, ga bersyukur, bete, ngomongin orang, and the list continues…
Solusi #1: Jadi, what works for me is… turn to silent mode. Kurangin bicaranya, banyakin lihat, baca, dengar, observe, dsb. Get more inputs, tentu saja yang positive. Surround ourselves with positive things. Baca biografi orang-orang hebat, belajar bagaimana orang-orang besar ini melewati masa-masa sulit dalam hidup mereka. Tahan diri dari ngomong kalau anticipate isi omongannya bakal banyak keluhan. Baru ngomong kalau emotionnya more or less stable and nyari solusi, bukan mengeluh. Kalau severity level dari low moralenya lebih parah, agak-agak hiding bentar lah, 1 atau 2 hari, biar orang ga lihat muka jutek kita, hihihi. Atau ga jadi kena semprot gara-gara cuma bercanda doank tapi kita terlalu sensitif nanggapinnya, atau turned-off karena mereka lagi semangat cerita tapi kita lagi males ngeresponse.
3. Shyness Management
Saya itu kalau ga di comfort zone orangnya pemalu T.T ga banyak omong, ga suka mulai conversation. Padahal ini skill tuh penting banget. Di acara-acara yang melibatkan publik pun, saya lebih suka jadi orang yg di belakang layar, and left unnoticed by ppl. Ga mau bawa kambing hitam “kan mau ngejaga diri supaya tetap ikhlas”. Karena memang masalahnya bukan di keikhlasannya, tapi ketidaknyamanan untuk dikenal, untuk kena spotlight (atau berbagi spotlight). Gimana ya, caranya overcome shyness dan ketidak-PD-an dari dinoticed oleh publik?
Solusi #1: no solution yet
4. Prayer Appreciation
Doa itu senjata paling hebat yang Allah kasih buat kita. Tapi kita aja yang underestimate keampuhan doa. Padahal ya, kalau dibayangin deh, setiap doa yang dipanjatkan dari dalam hati yang rasanya dalaaaaaam sekali, kalau berdoanya ikhlas dan benar, sebenarnya melesat jauh tinggi ke atas menembus langit dan langsung diurus sama Allah. Ini masih doa biasa, lho, belum doa kategori super seperti doa orang tua, doa tahajjud, sama doa yang mengiringi shadaqah/infaq/jihad. Nah, kalau ngerasa doanya koq belum dijawab-jawab, dikabulkan, kudu gimana dunk?
Solusi #1: Mungkin keyakinannya untuk terkabul masih kurang, ya? hehe. Atau content doanya masih ga benar tuh, ga ikhlas karena dan untuk Allah semata. Atau caranya bisa aja belum sempurna. Atau masih ada dosa2 yang menjegal dikabulkannya doa. Banyak deh possible reasonnya. Perlu sabar diperbaiki satu-satu aja
sabar ya, fik…
~construction in progress… menunggu solusi #2, #3, #4, dst.. plus doanya, hehe~
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Sepertinya, jika dibandingkan dengan dulu, sekarang rasanya lebih sulit untuk bercermin…
Seorang teman pernah bilang, “Yang sebenarnya bisa melihat kekurangan diri kita dengan jelas kan sebenarnya orang lain, bukan kita sendiri. Kita kadang malah ga bisa melihat kekurangan diri kita sendiri, atau at least, kurang objektif dalam menerima kekurangan diri sendiri. Jadi, dengan segala kekurangan yang ada, kita harus selalu siapkan ruang di hati ini. Ruang yang luas. Untuk bertoleransi dengan kekurangan orang lain. Pun, untuk meminta orang bertoleransi atas kekurangan kita. Untuk meminta maaf. Karena terkadang, kata dan perbuatan kita yang buat kita biasa-biasa saja, sebenarnya bisa saja menyakitkan buat orang lain, sadar atau tidak sadar.”
Saya setuju dengan nasihat teman saya itu. Toleransi internal kita perlu diperlapang. Sensitivitas kita untuk menge-sense kesalahan juga perlu diperbesar, apalagi kalau kita tahu bahwa orang yang berinteraksi dengan kita ini adalah orang yang sensitif. Dan satu hal lagi, setiap kita membutuhkan cermin. Teman-teman, orang-orang, yang bisa memberi feedback yang jujur tentang diri kita. Bukan buat apa-apa yang spektakular, extravaganza, atau alasan berbunga-bunga. Simply semata-mata karena mereka peduli. Dan kita ingin untuk bisa menjadi lebih baik lewat feedback mereka.
Untuk orang ENTP seperti saya, yang outspoken, straightforward, logis, saya sadar saya punya masalah dengan yang namanya berempati. Saya liat segala sesuatu dengan faktual faktual aja, ga terlalu musingin kalau-kalau sebenarnya ada hal-hal implisit dari sesuatu. Padahal, sering kali makna-makna implisit inilah yang seharusnya bisa ditangkap dengan lebih baik dan menjadi solusi buat permasalahan saya. Lebih parah lagi, saya “terlatih” buat nyolot sejak SMA. Dan kadang-kadang, kenyolotan ini tertrigger dalam situasi yang salah T.T Saya bisa berani banget involved dalam konflik (atau bahkan bikin konflik T.T), hanya karena saya merasa ada yang kurang benar di suatu hal, sekalipun yang lain “memaafkan” ketidakbenaran itu.
Saya biasa open semua hal di forum. Boleh ga setuju, boleh debat, bahkan sampai banting-banting kursi segala (belum pernah sih). Prinsipnya cuma satu, terbuka atas dasar percaya satu sama lain. Begitu forum selesai, kita ambil hasil diskusinya, kita relakan debat-debat yang sudah (kalau ada), lalu pulang dengan tenang. Kita semua tetap teman baik, ga ada lobi-lobi tersembunyi di belakang, ga ada perasaan-perasaan mengganjal di hati. Kalau kata Donald Trump it’s just business, nothing personal, buat saya, it’s just discussion, semua (seharusnya) baik-baik saja.
Bertahun-tahun saya berprinsip begitu… ehhhh, minggu ini saya kembali diingatkan. Saya diperlihatkan lagi, bahwa tidak semua orang bisa menerima ke-blak-blak-an. Tidak semua orang bisa menghargai transparansi. Pun, tidak semua orang bisa mentoleransi frankness. Dan! Ada kalanya diam itu jauuuuuuh lebih baik daripada jujur tapi jadi menyakitkan, fika…..
Yah… kadang-kadang, yang namanya hidup, mengecewakan dan dikecewakan itu tak terelakkan. Dan dari situlah… Keterbukaan menjadi penting. Kelapangan hati menjadi langka. Kejujuran menjadi sangat challenging. Perasaan sakit hati ketika kita tidak siap melihat teman kita “memantulkan” bayangan kita yang apa adanya. Atau perasaan kecewa ketika kita seharusnya tahu tapi tidak ada cermin yang memberi tahu. Atau lagi, perasaan dekat dengan teman, tapi kemudian kita sadar bahwa dia keberatan dengan 1 2 3 keburukan kita dan tidak merasa cukup dekat dengan kita (malah merasa lebih bahagia ketika jauh dari kita).
Hidup memang begitu ya. Pada akhirnya, manusia tuh memang sudah fitrahnya untuk punya kekurangan. Pengalaman beberapa hari ini membuat saya berpikir kembali tentang keburukan-keburukan saya, kekurangan-kekurangan saya, ke-belum-dewasa-an saya. Hehe, saya rasa, saya harus bersyukur untuk itu. Bersyukur masi dikasi kesempatan sama Allah untuk benar-benar merasa bersalah, buruk, dan ingin berubah mengurangi keburukan-keburukan dirinya. Bersyukur karena Allah mencegah saya dari perasaan bahwa saya orang baik. Dan bersyukur karena Allah membawakan saya cermin lewat kejadian-kejadian itu. Semoga saya benar-benar bisa berkurang buruk-buruknya ya, ga seperti saya yang sekarang ini (amin). Kalau ada yang baca postingan ini, minta doanya, pak, bu, hehe.
“We are all travelers in the wilderness of this world, and the best we can find in our travels is an honest friend.” ~ Robert Louis Stevenson
~berterimakasih sama dina n dafi atas inspirasi tak sengaja dari ketemu melulu di kantin selama 2 hari ini~
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
Sharing pelajaran teaching minggu ini. I found it interesting and quite true. Semoga bermanfaat
Menurut Fox (1983), ada 4 tipe teaching/learning models,
1. Transfer Theory
Orang yang meng-adopt prinsip ini, percaya bahwa proses pembelajaran adalah proses transfer informasi dari teacher ke student. Lebih bersifat 1 arah, dan berorientasi pada content pembelajaran. Lebih lanjut, theory ini dalam praktiknya dibagi menjadi 2 model lagi. Pertama, ada baby food manufacturer, di mana teacher akan membagi informasi menjadi “serpihan-serpihan” kecil, piece-by-piece, untuk dicerna oleh studentnya secara berkesinambungan dalam waktu tertentu, sampai akhirnya studentnya punya foundation yang cukup untuk “menelan” makanan yang lebih berat. Yang kedua adalah broadcast, di mana teacher akan menyebar informasi ke segala arah, berbagi ilmu, tapi tidak terlalu bother apakah informasi itu berhasil “ditelan” oleh studentnya. Simply because tipe ini tipe task-oriented yang berhenti pada penunaian kewajiban untuk mentransfer knowledge. Tipe ini familiar sekali, bukan? Tipe lecture, hehe.
2. Shaping Theory
Orang yang meng-adopt prinsip ini, percaya bahwa proses pembelajaran adalah proses pembentukan pikiran/skills menuju sebuah pre-determined goal. Bedanya sama theory yang pertama, theory ini berorientasi pada person dan bukan pada task. Tujuan dari teori ini adalah untuk membentuk seseorang menjadi seorang profesional di bidangnya dengan mengikuti arahan-arahan atau instruksi-instruksi dari sang guru. Jadi misalnya pemberian tugas-tugas programming, pelatihan skills bahasa, dan sebagainya. End productnya sudah tergambar dari awal dan teacher yang meng-adopt prinsip ini akan menunjukkan step-step yang diperlukan untuk menuju tujuan tersebut.
3. Traveling Theory
Berdasarkan Fox, theory ke-3 dan ke-4 adalah theory yang lebih advanced dari 2 theory sebelumnya. Traveling theory percaya bahwa proses pembelajaran adalah sebuah perjalanan bersama, journey together, antara students dengan seniornya. Peran teacher lebih seperti local tourist guide di sebuah tempat wisata. Sebagai orang yang lebih tahu tempat yang dijelajahi, teacher berperan sebagai teman perjalanan, fasilitator untuk students. Ketika jalanannya mudah, teacher akan membiarkan student meng-explore sendiri dan bertanya. Bila jalan mendaki lagi sukar, teacher akan menunjukkan jalan-jalan mana yang less painful, yang lebih strategis, atau lebih enriching. Beda dengan 2 teori sebelumnya, teacher menempatkan dirinya dalam posisi yang sejajar dengan student, hanya sudah duluan pernah menjelajahi tempat itu sebelumnya. Teacher berharap akan turut serta belajar dan mendapatkan hal-hal baru juga dari journey bersama sang student. And try to have wonderful journey together with the students. Sounds great?
4. Grow Theory
Theory terakhir, teori yang paling filosofis dibanding 3 teori sebelumnya. Teori ini berorientasi pada setiap individu. Tak ada task-task tertentu. Tak ada target-target bentukan tertentu. Tujuannya hanya satu, agar si student becoming a better student each and every day. Beyond all, teacher akan merasa berhasil jika studentnya tampak semakin dewasa menjalani hidup. Dan bisa menjadi orang yang mandiri, profesional, dan successfully deal with life,facing through both sunny and stormy days.
~Teringat pada tujuan tarbiyah. Pembentukan karakter, menjadi manusia yang lebih baik, beraqidah salim, beribadah shahih, berakhlaq mulia. Kalau kita berhenti sejenak dan berefleksi. Sekecil apapun peran yang kita mainkan dalam dakwah ini, sudahkah kita mengadopt grow theory dalam jiwa kita, pikiran kita, tingkah laku kita? Kalau bukan untuk mutarobbi, setidaknya untuk kita sendiri? Lalu, seperti perkembangan teori-teori pembelajaran di atas, dari simply transfer knowledge, menjadi proses pendewasaan diri, sudahkah cara berdakwah kita berkembang? Bahwa jalan yang kita tempuh ini bukan sekedar untuk mengisi pikiran-pikiran kita dengan ilmu dan pengetahuan, tapi juga bagaimana kita menghayatinya dan mengamalkannya? Hingga tidak hanya kita, tapi semua orang, bisa merasakan indahnya islam. Hingga tidak hanya kita, tapi semua orang, mengerti bahwa islam menghargai setiap potensi individu. Hingga tidak hanya kita, tapi semua orang, mengerti bahwa islam menerima siapapun untuk ber-ilah hanya kepada-Nya. Dan tidak hanya kita, tapi semua orang tanpa kecuali, mengerti bahwa islam itu mudah, islam itu membanggakan, dan islam itu rahmatan lil ‘alamin…
Ya Allahu Ya Rabbi…
Tolonglah orang-orang yang menolong agama-Mu…
Mudahkan urusan mereka…
~amin Yaa Rabbal ‘aalamiin~
Posted in Uncategorized | 3 Comments »
~tulisan hari ini adalah tulisan curhat~ Curhat dudul, hehe XD
Adaptasi itu ga mudah ya. Baru seminggu nge-kost sendiri, udah despo sendiri T.T Pada awalnya, aku agak cemas dengan so many things. Tahun baru ini… Banyak hal yang berubah. Banyak hal yang baru. Pertama, from employee to unemployed =p Lalu, new place where I would spend 12 hours++ of my days at. But these things have seemed to be ok so far, alhamdulillah. The most most most “awful” change is tinggal sendiri.
Awful. Kenapa awful? Bukan tempatnya yang awful. Alhamdulillah tempatnya ok. Bukan juga keluarga yang ditumpangi. Alhamdulillah keluarganya baik baik aja. Tapi karena akunya yang belagu kepedean bahwa keputusan untuk tinggal sendiri itu lebih baik. Awful decision, hahaha. Anyway, I still believe kondisi ini memang adalah kondisi yang lebih baik untuk sekarang, insya Allah. Bagaimanapun, kalau Allah ga berkehendak, kan ga akan kejadian ya? hehe. Lebih baik, in a way. And it comes as a complete package with less enak dan less nyaman. Yah, I guess this is ur life lesson for this time being, fik…* Saatnya untuk sesuatu yang baru. Saatnya untuk adaptasi kembali dan keluar dari comfort zone selama ini.
Untuk pertama kalinya, aku ngerasa begitu sepi. Sepi ini bukan sepi karena tinggal sendiri. Lebih dari itu,sepi ini sepi kangen. Aku kangen sama tini prengki. Duduk bareng, lunch bareng, ngobrol macem-macem bareng, pulang bareng, sampai OT tengah malam bareng. Aku kangen sama dilla nanis apret. Ngaji bareng, makan bareng, cela2an bareng, ketawa-ketiwi bareng, curhat bareng. Aku kangen lele larissa. Tukar pikiran bareng. Sok-sokan jadi filsuf bareng. Sok-sokan nge-plan masa depan bareng. Aku kangen sama manda intan. Rumet terbaik sepanjang masa, hehehe. Ke JP bareng, masak bareng, tapi ga pernah nangis bareng =p selalu salah satu yang nangis ya, hehe. Aku kangen flatmate. Kehidupan flat was a bit tough di detik-detik terakhir. Tapi ada banyak pengalaman menyenangkan along the way. Olahraga bareng, jalan-jalan ke Bugis bareng, visitation new baby girls and baby boys bareng, traktiran bareng, sampai pindahan bareng. Dear Allah, surrounded by many many nice friends, mungkin aku kurang bersyukur selama ini.
Ya sudah, mau refleksi itu saja untuk tulisan hari ini. Ada dinul, ada larissa, ada lele, ada kak nanda, ada temen2 semua di kampus… Semoga hari esok tak sepi lagi… insya Allah.. amin…
Posted in Uncategorized | 2 Comments »
Saya pernah berpikir. Hidup ini mungkin bisa diibaratkan dengan hutang. Hutang kepada Allah. Atas segala potensi yang melekat pada diri kita. Yang dipinjamkan oleh Allah sebagai sarana untuk kesementaraan hidup di dunia. Potensi yang di-amanat-kan oleh pencipta kita. Yang perlu didayagunakan selama nafas masih berhembus. Dan kelak di suatu hari yang panasnya tak tertahankan, menjadi pemberat atau peringan timbangan kita.
Nikmat hidup itu ga sempit pada harta seperti ideologi materialis. Tapi juga potensi dan bakat. Sama seperti harta, potensi bisa jadi berkah, bisa jadi masalah. Dan kalau di dalam harta kita, ada sebagian yang merupakan hak saudara-saudara kita yang membutuhkan, dalam potensi kita, juga ada sebagian yang merupakan hak saudara-saudara kita yang membutuhkan. Potensi memang ga straightforward seperti harta atau uang yang sifatnya konkret bisa dipotong 2.5%. Tapi di situlah masalahnya. Kadang kita lupa kalau potensi itu bagian dari nikmat hidup. Kecerdasan, kelembutan hati, kepemimpinan, bakat seni, dan masih banyak yang lain. Mereka ga quantifiable, tapi nyata adanya, dan nyata manfaatnya.
Ada 2 cara menyikapi hidup yang diajarkan Qur’an. Bersabar dan bersyukur. Bersabar terhadap ujian. Dan bersyukur terhadap nikmat dan kemudahan, termasuk nikmat akan potensi. Potensi ga akan jadi rizqi kalau ga dipoles dengan kerja keras. Karena itu, salah satu tanda orang bersyukur adalah, dia selalu bekerja keras, pengembangan potensi untuk Allah dan Islam. Dia hanya ambil sebagian manfaatnya untuk dirinya dan keluarganya. Sebagian besarnya untuk umat, untuk masyarakat. Tanda orang bersyukur itu, 24 jam waktunya tidak ada yang sia-sia. Semuanya untuk beribadah (QS 51:56). Tidurnya untuk ibadah, makan dan minumnya untuk ibadah, refreshingnya juga untuk ibadah. Selalu ada kebermanfaatan, sesimple apapun, dari aktivitas harian seorang yang bersyukur. Hmmm, jadi malu. Sudah cukup bersyukurkah saya hari ini?
Posted in Uncategorized | 4 Comments »
“kita adalah da’i sebelum menjadi apapun”… Kalimat yang sederhana, tapi mampu merombak ke mana kehidupan seseorang akan ia arahkan. Yang kemudian menjadi landasan dalam menjalani path hidup masing-masing dari kita. Kalimat ini juga telah mengingatkan saya berkali-kali untuk menaikkan semangat ketika rasa tidak percaya diri melanda dalam mengemban tugas-tugas dakwah. Kalimat ini juga yang mengingatkan saya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam diri dan karakter saya dan berusaha menjadi orang yang lebih baik ketika saya sedang malas atau futur untuk upgrading. Kalimat ini adalah pegangan. Tuntunan bagi setiap muslim agar tetap berada di jalan-Nya sepanjang ia hidup. Agar ia tidak sia-sia. Tidak sia-sia dalam keniscayaan perjalanan waktu. Karena hidup itu hanya sebentar. Sangat sebentar.
Setiap individu itu wajib berdakwah, menjadi da’i. Satu tugas mulia yang diemban oleh manusia mulia, setiap muslimin dan muslimah. Kutipan di atas mengingatkan kita semua bahwa kita adalah da’i sebelum menjadi segala sesuatu. Da’i sebelum student. Da’i sebelum professional. Da’i sebelum ayah. Da’i sebelum ibu. Da’i sebelum anak. Da’i sebelum suami. Da’i sebelum istri. Sebelum segala hal yang menjadi tugas dan keseharian kita, baik itu student, programmer, presiden organisasi, dan sebagai-sebagainya, kita adalah da’i. Kita adalah penebar kebaikan dan risalah Islam di muka bumi.
Dakwah adalah amanah mulia yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. Amanah mulia yang hanya diperuntukkan bagi manusia-manusia mulia umat muslimin dan muslimat. Seandainya semua orang sadar bahwa dirinya adalah da’i sebelum segala sesuatu, pastilah semua akan malu untuk bermaksiat dan menghamba kepada selain-Nya. Jika setiap kita sadar bahwa dirinya adalah da’i, malu rasanya untuk mencoreng muka agamanya, mencoreng muka pegangan hidupnya, mencoreng muka rasulnya, dengan berbuat dosa, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Jika setiap kita sadar bahwa dirinya adalah da’i, malu rasanya untuk tidak menjadi seorang yang berpengetahuan dan berkemampuan, sehingga dirinya mampu berguna bagi manusia yang lain. Sungguh, jika setiap kita sadar bahwa dirinya adalah da’i, niscaya roda dakwah ini akan berputar dengan cepat, dengan baik, efektif mencapai tujuan. Kemuliaan Islam. Kebahagiaan dan kesejahteraan umat dan manusia seluruhnya.
Kemuliaan tidak akan dicapai tanpa tetesan keringat dan darah. Tidak mengapa jika jalan yang kita tempuh ini tidak senantiasa lancar lempeng saja selama perjalanannya. “Apakah kamu mengira kamu akan dibiarkan saja mengatakan “kami beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS 29:2-3). Setiap perjuangan itu ada cobaannya. Tapi jangan menyerah. Jangan tinggalkan peran kita yang sudah ditetapkan sebelum kita menjadi segala sesuatu. Kesulitan pasti bisa dilewati. Karena Allah adalah sebaik-baik penolong dan pelindung orang-orang beriman. Innahu ni’mal maulaa wa ni’mannashiir. Allah ada bersama kita. Malaikat senantiasa mendo’akan kita. Tinggal sejauh apa kita mau tetap percaya dan berusaha.
Nahnu du’at qobla kulli syai’in.
Kita adalah da’i sebelum menjadi segala sesuatu.
Jika kita seorang student, kita adalah da’i juga.
Karena itu, jadilah student yang berpengetahuan baik.
Jika kita seorang professional di tempat kerja, kita adalah da’i juga.
Karena itu, jadilah employee yang produktif dan team player yang baik.
Jika kita seorang pemimpin, kita adalah da’i juga.
Karena itu, jadilah pemimpin dengan management dan keteladanan yang baik.
Jika kita seorang ibu atau ayah, kita adalah da’i juga.
Karena itu, jadilah orang tua yang demokratis, kritis, dan menjadi pelindung seluruh anggota keluarga.
Orang yang menghargai dirinya, akan menghargai peranan yang ia mainkan dalam kehidupannya dan masyarakatnya. Sehingga, kalau kita mau sadar, tak ada alasan bagi kita untuk tidak menghargai nikmat Allah yang paling besar dalam hidup kita, yaitu hidayah. Berapa banyak orang di luar sana yang hatinya telah dikunci mati oleh Allah? Hingga cahaya hidayah tak mampu menerangi pikiran dan hatinya. Sebagai da’i, tak ada alasan untuk tidak menjadi muslim yang baik. Tak ada alasan bagi kita untuk menjadi orang yang biasa-biasa saja, atau malah tidak jelas kualitasnya. Di manapun kita berada. Dengan segala yang ada pada kita, seterbatas apapun itu, jadilah da’i yang terbaik yang kita bisa.
“Wahai Orang-orang yang beriman! Maukan kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui” (QS 61:10-11).
~yang begitu rindu menjadi da’i di atas segala sesuatu~
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
“Bukan mau apa-apa ya, Fik, tapi realistis aja deh, ya memang hal-hal begitu pasti masuk dalam faktor keberatan juga.” Suatu hari, teman saya pernah bilang seperti itu ke saya ketika saya menanyakan pendapatnya mengenai sesuatu. Waktu itu rasanya antara pengen nimpuk sendal sama haizzzzz aja. Berasa terpaan angin negatif datang menghadang, dari teman sendiri pula. Tapi akhirnya pilihan reaction saya jatuh pada haizzzzz saja, namanya juga sekedar minta pendapat. Kata-kata dia memang masuk akal. Dan realistically speaking, begitulah fakta yang ada di hadapan saya sekarang. Kebanyakan masyarakat kita memang begitu sih paradigmanya. Mau bagaimana lagi?
Untuk sekian waktu, saya selalu mengasosiasikan realistis dengan pesimis. Walau realistis itu sebenarnya belum tentu pesimis, tapi hampir 90% dari kalimat-kalimat yang mengandung kata realistis yang pernah saya dengar, bernilai emosi negatif pada akhirnya. Contohnya seperti dalam sikap-sikap berikut. Seseorang bersikap realistis karena merasa kemampuan belum memadai. Lalu, dengan alasan realistis, ia jadi takut untuk mencoba walau ia tahu tak ada salahnya mencoba. Atau dalam kasus lain, realistis artinya ikut-ikut paradigma masyarakat dan orang kebanyakan lalu takut menjadi berbeda. Karena takut berbeda, akhirnya malah jadi takut sama sesama manusia. Sikap realistis juga banyak terlihat dari realistisnya berkompetisi. Lihat banyak saingan, lalu takut maju. Melihat hal-hal tersebut, saya kemudian berkesimpulan saya tidak ingin jadi orang yang realistis. Menurut saya, orang yang realistis terlalu banyak khawatir dan pada akhirnya jadi menghalangi dirinya sendiri untuk maju.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun kemudian (hiperbolis), saya baru sadar sesuatu. Benar bahwa pesimis adalah lawan dari optimis, tapi realistis itu bukan pesimis. Justru, salah satu ciri orang sukses itu adalah orang yang memiliki kombinasi di antara keduanya, optimis sekaligus realistis.
Menurut wordreference.com, realistic is expressing awareness of things as they really are. Sinonim kata realistic dari Thesaurus adalah matter-of-fact. Dari definisi tekstualnya saja, sebenernya tidak ada yang salah dari sikap realistis. Malahan, kalau orang mau sukses, orang perlu kemampuan untuk menerima things as they are, sehingga masalah disadari sebagai masalah, dan kemudian masalah disadari perlu penyelesaian, dan kemudian ada aksi untuk penyelesaian. Tidak ada sinonim pesimis untuk kata realistis di Thesaurus. Hmmm…
Dari Thesaurus lagi, realistis juga bermakna down-to-earth, reasonable. Dan kemudian saya menjadi tersadar, mungkin itu kata kuncinya! Reasonable. Sesuai fakta. Beralasan. Jadi, kalau masih ada fakta dan alasan untuk maju, maju lor. Sikap ini ternyata merupakan faktor balancing dalam bagaimana kita seharusnya menjalani hidup. Tawazun, seimbang antara ekspektasi dan situasi, itulah reasonable. Sudah seharusnya sikap realistis itu ditempatkan di tengah-tengah, bukan melenceng ke kiri atau ke kanan. Sikap realistis itulah yang pada akhirnya akan membawa kita jauh. Karena ia adalah fungsi kontrol dari optimisme dan harapan-harapan kita dalam menjalani hidup. Seandainya kita terus optimis tanpa reality check, mungkin kita tidak akan pernah sadar ketika suatu saat kita melenceng dari tujuan kita itu sendiri. Seandainya kita terus mengharapkan hal-hal yang melangit dari orang-orang di sekitar kita, justru reality check inilah yang akan membuat kita kembali mengukur sampai di mana kekuatan kita dan orang-orang di sekitar kita. Sehingga, ketika situasi memang tidak mendukung, sikap realistis akan menjauhkan kita dari stress.
Memang benar seringkali orang menggunakan alasan realistis atau reasonable untuk menyerah, berhenti berusaha, atau berhenti berharap. Dan kadang-kadang di sinilah ujian orang-orang yang berkemauan keras. Dianggap ngotot tot tot sengotot-ngototnya karena tidak mau berhenti. Tapi, seperti saya bilang tadi, saya rasa reasonable memang bergantung pada fakta dan alasan yang ada. Kalau memang kamu masih punya alasan untuk maju terus, ya maju terus, lor. Jangan berhenti. Toh, kalau reality check ditempatkan secara proporsional, seorang optimis akan tahu kapan waktunya berhenti.
Hidup itu diciptakan adil oleh yang Maha Adil. Ada kalanya berbatu, tapi ada kalanya juga mulus lancar. Realistis itu seharusnya menjadi penyeimbang kita, tidak terlalu merasa di atas angin ketika jalan begitu mulus, tapi juga tidak terlalu merasa berdarah-darah ketika jalan penuh berbatu. Yang biasa-biasa saja deh. Reality makes a person humble. Karena dia tahu bahwa tak ada sulit yang tanpa kehendak-Nya, dan tak ada pula mudah yang tanpa kehendak-Nya. Semua silih berganti. Selalu ada kemudahan bersama kesulitan. Dan tidak ada kemudahan abadi selamanya.
Jadi, kesimpulan dari kontemplasi hari ini bagaimana nih? Biar masing-masing kita punya kesimpulan kita masing-masing. Yang jelas, kalau suatu hari ada lagi yang akan bilang “Realistis aja, Fik…”, saya sudah tahu bagaimana menginternalisasi pendapat itu ke dalam pikiran saya dan menyikapinya. “Reasonable aja, Fik…”
Posted in Uncategorized | Leave a Comment »
