Satu pelajaran hari ini…
Kehidupan itu berjalan. Kita jalani satu demi satu, selangkah demi selangkah. Dan selama manusia hidup, sekecil apapun, manusia akan menyimpan harapan di dalam jiwanya. Harapan adalah keyakinan. Harapan adalah motivasi hidup. Manusia yang tidak berharap, atau lebih tepatnya berhenti berharap, berarti jiwanya telah mati, atau setidaknya terluka atau sakit. Sehingga menapaki hidup tanpa secercah harapan berarti siap mati kapanpun, karena mati hari ini atau esok tak ada beda baginya.
Manusia pada dasarnya diciptakan berkeluh kesah (QS Al Ma’arij:19-21). Sulit bagi manusia untuk merasa cukup dengan hidupnya. Selalu saja pasti ada yang kurang. Karena hidup memang tak pernah sempurna. Dan keindahannya terletak pada bagaimana manusia dengan bijak bisa merasakan kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan.
Sulit juga bagi manusia untuk tidak merasa kecewa ketika menghadapi permasalahan hidup. Ketika orang lain tidak berbuat sesuai dengan harapan kita, kita kecewa. Ketika sesuatu berjalan dengan tidak semestinya, kita kecewa. Dan ketika harapan yang dinanti-nanti tidak kunjung datang, kita juga kecewa.
Kecewa adalah ujian yang tidak pernah habis. Saya bilang tidak akan pernah habis karena selama kita hidup, sejak kita kecil sampai kita tua, kita pasti pernah, sedang, dan akan melakukan sesuatu yang disebut
“berharap”. Dan harapan yang tak terkabul, atau belum terkabul, seringkali mendatangkan rasa kecewa.
Beberapa waktu belakangan ini saya kecewa. Kecewa pada sesama manusia, dalam hal ini orang tua. Kecewa pada suatu hal, dalam hal ini pekerjaan. Dan kecewa pada situasi, dalam hal ini proses administrasi yang lambat. Pace hidup saya jadi agak kacau. Ketika tidur, saya sering memimpikan hal-hal yang mengkhawatirkan saya dan akhirnya terbangun. Ketika bangun, saya jadi moody dan irritable, plus sensitive dengan hal-hal kecil. Saya merasa lemah sekali. Dan akhirnya benar-benar pasrah kepada satu-satunya yang bisa saya harapkan, Zat yang Menguasai langit, bumi, dan seisinya.
Menjalani ini semua, akhirnya saya sampai pada satu kesadaran. Bahwa saya semakin sendiri menjalani hidup. Sendiri di sini maksudnya seperti ini. Kalau dulu sebagai keluarga, orang tua dan kita adalah 1 tubuh. Apapun yang kita lakukan, mudah untuk mendapatkan dukungan orang tua. Dan apapun yang orang tua bilang, mudah bagi kita untuk menuruti. Sekarang kami tidak 1 tubuh lagi, setidaknya tidak 1 jiwa lagi, berseberangan cara berpikir, berseberangan prioritas, berseberangan antara idealis dan realistis, dan berbagai macam perbedaan lainnya. Agak sedih rasanya, menerima kenyataan bahwa setelah saat ini saya punya kewajiban tambahan untuk meyakinkan orang tua saya tentang pilihan saya. Dari masalah pilihan jalan hidup sampai pilihan pasangan hidup. Tapi, mendengar cerita seorang kakak hari ini, saya agak terhibur. Mungkin ini salah satu bagian dari proses kehidupan ya? Menjadi seorang pribadi seutuhnya. Menjadi diriku secara utuh, bukan ayahku, atau ibuku, atau adikku. Hingga suatu saat pribadi yang utuh ini bisa menemukan cerminnya, sehingga ia tidak sendiri lagi dan menjadi lebih kokoh.
Sabar itu benar-benar pelita. Sabar untuk tetap tenang dan tidak mengeluh. Sabar untuk terus berdoa. Sabar untuk terus berusaha. Sabar untuk yakin bahwa Allah tahu rasa kecewa kita, setiap detik-detiknya. Dan sabar untuk yakin bahwa ini semua ada hikmahnya, ini semua ada balasannya, Allah ga akan menyia-nyiakan semua yang kita lalui itu. Ia adalah cahaya yang menerangi gelapnya kecewa. Ketika kita sadar bahwa ada Allah tempat bergantung untuk segalanya, tempat berharap yang sempurna, masih layakkah kita merasa kecewa? Kita punya Allah yang bersedia menampung segala beban di hati ini tanpa sedikitpun kekayaan-Nya berkurang. Masih layakkah kita bersedih?
Ketika diri ini mulai merasa kecewa, apapun alasannya. Mungkin kita hanya sedikit lupa mengingat-Nya. Ingat bahwa kita tidak sendiri. Ingat bahwa ini semua terjadi atas kehendak-Nya, kuasa-Nya. Ingat bahwa manusia itu memang tidak sempurna dan hanya Allah-lah Yang Maha Menepati janji. Dan setelah kita ingat, coba tanya diri kita kembali, ada Allah di sampingku, masih layakkah aku untuk kecewa?