Feeds:
Posts
Comments

Lost & Broken

My rubber band is broken.

Kali ini aku benar-benar merasa ingin lari. Seandainya waktu bisa berhenti berdetak sekejap saja. Seandainya bumi bisa berhenti berputar sesaat saja. Aku ingin berhenti. Berhenti. Berhenti. Dan memulai awal yang baru. Aku menyesal, kenapa aku tidak se-helpful yang dulu? Kenapa aku tidak seramah yang dulu? Kenapa aku melindungi diriku dengan menggigit orang lain? Dear Lord, pls save me from myself. I don’t like who I’m becoming now :-(

I feel lost.

Apakah aku masih belum bisa realistis? Tapi aku tidak ingin jadi realistis. Kalau realistis berarti tidak live up to your own values, apa artinya hidup? Pemimpi tidak akan bahagia hidup realistis. Lalu, jika menolak realistis artinya membiarkan diri terluka dan kecewa, apa yang harus kulakukan? Dulu kupikir, aku harus bertahan dan menunggu sampai badai berlalu. Tapi kini aku sadar bahwa mungkin aku salah. Daya tahanku sudah kalah. Dan tak ada cara lain yang lebih baik selain pergi. Find a place where I belong. There must be a place where I belong. Di mana idealisme lebih penting dari uang. Di mana idealisme lebih penting dari menjaga image. Di mana hidup tidak dipersulit oleh unnecessary things. Allah, hanya Engkau penolongku.

~iman tipis ya begini nih, hiksu… Allah, tolong aku~

A Prayer about 19th Nov 2009

Dear Allah…

Bring me to a place,
where I can learn from the best, more than today
where I can smile and laugh, more often than today
where I can see ideal examples and models, better than today
where I can feel at ease and peace through storms, more than today
and where I can be myself and become who I really am, much much more than today

~amin~

Mudahkan…

Hari ini adalah hari terbanyak apologizing selama nge-support. Ada yang salahku, ada yang ga sepenuhnya salahku. Felt tired. And felt hopeless.

Mencoba bersabar dengan berpegang pada satu potongan hadits.
“… Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. (HR. Muslim) …”

Pada dasarnya, itulah inti dari nge-support. Berusaha memudahkan urusan orang lain. Jadi, dengan ini, walau aku harus bersulit-sulit dan makan hati, aku berdoa, Ya Allah, mudahkanlah urusan2ku, di dunia dan akhirat. Hari ini dan nanti. Mudahkan aku menjalani hidup. Mudahkan aku menggapai akhir yang baik. Lancarkanlah urusan-urusanku, yang sesungguhnya begitu kecil dan mudah bagi-Mu. Jadikan yang kecil itu tampak kecil bagiku. Dan yang sejatinya besar tampak besar. Tak ada daya dan kekuatan tanpa-Mu. amin.

Ya Allah… Mudahkanlah…

The (500) days

Tom was brokenhearted.
He was screwed.
Then, what happened?
He stood up.
He decided to be an architect.
He moved on with his life.

Exactly how it was.
One message was told. There’s always the bright side of everything. If a disappointment hurts. The bounce back will be greater and more satisfying than the hurt itself. If I get to pay for my own fault The wisdom I learn after will be much much more worth it and far greater than the mistake I made. Alhamdulillah.

Tom lost his faith.
I almost lost my faith, too.

I had it different.
Tom met the girl again. The girl, who was so skeptical before. She then believed that Tom was right all along. She began to have faith. And in the end, Tom realized that it’s wrong to lose faith. He realized that his perspective was true. He just needed to get over his disappointment and to start a new.

Me? I didn’t meet anyone, hehe. But I’ve been truly fine. Again, Alhamdulillah. Now I realize how blessed I am. Though I was facing it alone, I was never alone. Allah’s with me, teaching me the same, even wiser thoughts all this while. Allah, Alhamdulillah. Thank You so much.

Dua Filosofi

Filosofi Nomer 1.

The best way to reach the peak is by climbing the mountain.
I believe, we’ll feel more comfortable being at the top if  we’ve shed tears and even blood for it. And since we’ve fought for it, when things go wrong, we won’t let it slip just like that.

Filosofi Nomer 2.

Runtuhkan dindingnya.
Setiap kita punya dinding kita masing-masing. Dinding yang menghalangi kita dari mempergunakan potensi kita semaksimal mungkin. Dinding yang menghalangi kita dari merasa bahagia. Dinding yang menakutkan atau kadang melenakan. Runtuhkan dindingnya, dan setiap kali dinding itu runtuh, don’t look back, juz face forward.

Merasa Kecewa. Layakkah?

Satu pelajaran hari ini…

Kehidupan itu berjalan. Kita jalani satu demi satu, selangkah demi selangkah. Dan selama manusia hidup, sekecil apapun, manusia akan menyimpan harapan di dalam jiwanya. Harapan adalah keyakinan. Harapan adalah motivasi hidup. Manusia yang tidak berharap, atau lebih tepatnya berhenti berharap, berarti jiwanya telah mati, atau setidaknya terluka atau sakit. Sehingga menapaki hidup tanpa secercah harapan berarti siap mati kapanpun, karena mati hari ini atau esok tak ada beda baginya.

Manusia pada dasarnya diciptakan berkeluh kesah (QS Al Ma’arij:19-21). Sulit bagi manusia untuk merasa cukup dengan hidupnya. Selalu saja pasti ada yang kurang. Karena hidup memang tak pernah sempurna. Dan keindahannya terletak pada bagaimana manusia dengan bijak bisa merasakan kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan.

Sulit juga bagi manusia untuk tidak merasa kecewa ketika menghadapi permasalahan hidup. Ketika orang lain tidak berbuat sesuai dengan harapan kita, kita kecewa. Ketika sesuatu berjalan dengan tidak semestinya, kita kecewa. Dan ketika harapan yang dinanti-nanti tidak kunjung datang, kita juga kecewa.

Kecewa adalah ujian yang tidak pernah habis. Saya bilang tidak akan pernah habis karena selama kita hidup, sejak kita kecil sampai kita tua, kita pasti pernah, sedang, dan akan melakukan sesuatu yang disebut
“berharap”. Dan harapan yang tak terkabul, atau belum terkabul, seringkali mendatangkan rasa kecewa.

Beberapa waktu belakangan ini saya kecewa. Kecewa pada sesama manusia, dalam hal ini orang tua. Kecewa pada suatu hal, dalam hal ini pekerjaan. Dan kecewa pada situasi, dalam hal ini proses administrasi yang lambat. Pace hidup saya jadi agak kacau. Ketika tidur, saya sering memimpikan hal-hal yang mengkhawatirkan saya dan akhirnya terbangun. Ketika bangun, saya jadi moody dan irritable, plus sensitive dengan hal-hal kecil. Saya merasa lemah sekali. Dan akhirnya benar-benar pasrah kepada satu-satunya yang bisa saya harapkan, Zat yang Menguasai langit, bumi, dan seisinya.

Menjalani ini semua, akhirnya saya sampai pada satu kesadaran. Bahwa saya semakin sendiri menjalani hidup. Sendiri di sini maksudnya seperti ini. Kalau dulu sebagai keluarga, orang tua dan kita adalah 1 tubuh. Apapun yang kita lakukan, mudah untuk mendapatkan dukungan orang tua. Dan apapun yang orang tua bilang, mudah bagi kita untuk menuruti. Sekarang kami tidak 1 tubuh lagi, setidaknya tidak 1 jiwa lagi, berseberangan cara berpikir, berseberangan prioritas, berseberangan antara idealis dan realistis, dan berbagai macam perbedaan lainnya. Agak sedih rasanya, menerima kenyataan bahwa setelah saat ini saya punya kewajiban tambahan untuk meyakinkan orang tua saya tentang pilihan saya. Dari masalah pilihan jalan hidup sampai pilihan pasangan hidup. Tapi, mendengar cerita seorang kakak hari ini, saya agak terhibur. Mungkin ini salah satu bagian dari proses kehidupan ya? Menjadi seorang pribadi seutuhnya. Menjadi diriku secara utuh, bukan ayahku, atau ibuku, atau adikku. Hingga suatu saat pribadi yang utuh ini bisa menemukan cerminnya, sehingga ia tidak sendiri lagi dan menjadi lebih kokoh.

Sabar itu benar-benar pelita. Sabar untuk tetap tenang dan tidak mengeluh. Sabar untuk terus berdoa. Sabar untuk terus berusaha. Sabar untuk yakin bahwa Allah tahu rasa kecewa kita, setiap detik-detiknya. Dan sabar untuk yakin bahwa ini semua ada hikmahnya, ini semua ada balasannya, Allah ga akan menyia-nyiakan semua yang kita lalui itu. Ia adalah cahaya yang menerangi gelapnya kecewa. Ketika kita sadar bahwa ada Allah tempat bergantung untuk segalanya, tempat berharap yang sempurna, masih layakkah kita merasa kecewa? Kita punya Allah yang bersedia menampung segala beban di hati ini tanpa sedikitpun kekayaan-Nya berkurang. Masih layakkah kita bersedih?

Ketika diri ini mulai merasa kecewa, apapun alasannya. Mungkin kita hanya sedikit lupa mengingat-Nya. Ingat bahwa kita tidak sendiri. Ingat bahwa ini semua terjadi atas kehendak-Nya, kuasa-Nya. Ingat bahwa manusia itu memang tidak sempurna dan hanya Allah-lah Yang Maha Menepati janji. Dan setelah kita ingat, coba tanya diri kita kembali, ada Allah di sampingku, masih layakkah aku untuk kecewa?

Mellow day!

Selain karena hujan terus dari pagi (ya Allah… kabulkan doa-doaku ya… amin), karena hari ini adalah hari pertama tanpa BH di kantor (pake inisial biar ga ada yang nge-track, hehe).

“You never know what you have until you lose it. And once you lose it, you’ll never get it back.” This is not the first time I read this quotation. But maybe today is the first day I took a few minutes in my life, thinking through what it means and the message it’s trying to share.

Tempat ini berduka. Untuk sehari saja, izinkan kami berduka. Karena seorang pejuang yang baik hati dan begitu pintar baru saja pergi. Dan baru sehari saja ia pergi, kami sudah tahu hari-hari kami berikutnya akan menjadi lebih berat.

Seorang mentor pernah mengutip hadits Rasulullah saw, “Manusia terbaik di antara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Tanda-tanda orang yang seperti itu adalah kehadirannya sering kali tidak dirasakan, tapi ketidakhadirannya dirasakan begitu berpengaruh. Ketika ia ada, segala sesuatu berjalan dengan lancar. Tetapi ketika ia tidak ada, orang-orang kerepotan dan merindukannya, menyadari bahwa kehadirannya ternyata begitu penting. Itulah rendah hati. Itulah keikhlasan demi Allah semata tanpa mengharap penghargaan dari orang lain.

Manusia ikhlas adalah manusia yang merunduk di muka bumi. Saking merunduknya, orang-orang tidak sadar betapa besar kontribusinya bagi yang lain. Begitulah sahabat Ali r.a. berpesan, “Jadilah manusia yang paling mulia di mata Allah, yang biasa-biasa saja di mata manusia, dan paling buruk di matamu sendiri”. Menjadi biasa saja, tapi amalnya di dunia membuat timbangan kebaikannya berat di hari akhir nanti, Subhanallah.

Dua tahun sudah. Aku belajar darinya, merasakan teamwork dengannya. Dan sungguh, ia adalah pribadi yang begitu menyenangkan. Kini kami kehilangan separuh motivasi kami. Kini kami begitu terseok. Allah, bantu kami bertahan ya. To be able to keep going is enough. Walau jalan akan berbadai di awal. To be able to keep going is enough. Until the time comes for each of us to leave, insya Allah.

Hari ini aku kembali diingatkan. Untuk mensyukuri kehadiran orang lain dalam hidup kita. Sekecil apapun perannya. Sesebentar apapun kehadirannya. Semoga aku belajar dari kehilangan ini. Hingga suatu hari, ketika aku dipercaya untuk memimpin, insya Allah. Aku tak akan menyia-nyiakan kehadiran orang lain. Dan bersyukur atas kehadiran orang lain. Dan aku akan mewujudkan team impian. Teamwork yang terbaik di dunia. amin.

~I felt heartbroken seeing us today. But things will be alright eventually. Insya Allah, Semangat! Semangat! Semangat! ~

Dengan keras, Fika!
Serukan laa haula wa laa quwwata illaa billaah!

Dengan sepenuh hati, Fika!
Camkan laa haula wa laa quwwata illaa billaah!

Dengan sungguh-sungguh, Fika!
Maknai laa haula wa laa quwwata illaa billaah!

Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali bersama-Mu…

Bahagia itu…

Bahagia itu…
… sebuah pilihan. Bagi yang menyadari bahwa ada 2 sisi dalam kehidupan. Bahwa benderang datang setelah kegelapan. Bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Dan bahwa ada pilihan antara kesedihan atau kebahagiaan. Ia tak datang ketika kita lupa bahwa ada akal untuk mengubah keadaan. Ia juga tak menyapa ketika kita putus asa menggantungkan harapan. Tapi ia akan tergenggam dengan sendirinya ketika kita tak putus asa mencari sisi positif dari kesulitan.

Bahagia itu…
… sebuah cara pandang tak terukur. Menghitung apa yang tidak dimiliki akan mengikis rasa syukur. Mengingat-ingat hal-hal yang tidak berkenan di hati akan menumpuk keluh. Tenggelam dalam kekecewaan membuat hati tertutup. Dan bahagia adalah kebalikan dari yang seperti itu. Bahagia berarti bersyukur atas apa yang ada dan berhenti berhitung. Bahagia berarti berhenti berkeluh kesah dan menjaga kesabaran tetap terulur. Berhenti merasa kecewa dan menggantungkan segala harapan hanya kepada-Nya. Dan jadilah karang yang tegar dan bahagia mempersembahkan hidup hanya untuk-Nya.

Bahagia itu…
… sebuah aksi. Bahagia tidak perlu ditunggu dan tidak perlu dihampiri. Bahagia itu dibuat, diciptakan, dimaknai. Ia bisa hadir dalam setiap tarikan nafas ini. Menjadi cahaya bagi masa depan selama darah masih mengalir. Dan dimaknai dalam wujud motivasi. Tak ada bahagia tanpa keringat dan darah. Tak ada bahagia tanpa pikiran yang bijak. Tanpa mereka, ia perlahan menghilang terbawa angin.

Bahagia itu…
… sebuah keyakinan. Bahwa bahagia itu ada, bukan tiada. Ia baru tiada ketika yang ada dipertanyakan keberadaannya dan yang tiada dicari keberadaannya.

~bagi yang mencari bahagia~

Protecting my View

Aku terbiasa untuk berpedoman pada sebuah prinsip bahwa apapun yang kita lakukan atau putuskan dalam hidup, haruslah apa yang kita PIKIR benar untuk dilakukan. Along the way, ketika permasalahan hidup menjadi lebih kompleks dan parameter salah dan benar dari segala sesuatunya tak lagi kasat mata, aku semakin menggantungkan keputusanku pada yang aku RASA benar untuk dilakukan. Parameter feeling ini akhirnya adalah sesuatu yang aku yakini sebagai gut feeling, intuisi akan kebenaran dari sesuatu tanpa pemikiran analitis atau terstruktur akan suatu masalah. Cukup dengan see through a problem, dan gut feelingku akan bisa mengira-ngira ke mana arahku atau decision apa yang akan aku buat.

Terkadang, kondisiku sekarang yang seperti ini menjadi sebuah kekhawatiran tersendiri bagiku. Ada sebuah pertanyaan besar “Kenapa?” yang menggantung di pikiranku. Setelah semakin dewasa, setelah pengalaman hidup semakin bertambah, instead of semakin mantap dengan analisa logisku, kenapa aku semakin tidak bisa melakukan hal yang aku pikir benar ketika perasaanku bilang bahwa itu tidak benar. Padahal, kalau diukur secara logis, jawabannya sudah jelas. Itu adalah kewajiban lah, itu bisa mendatangkan uang lebih banyak lah, itu adalah hal yang normal orang kebanyakan akan lakukan lah.Tapi tetap saja, kalau hatiku tidak merasakan kecenderungan untuk melakukannya, mau dihantam dengan 1001 justifikasi pun, aku akan selalu bergeming. Aku tak akan mampu melakukannya.

Hari ini, mungkin aku menemukan jawabannya. Apa yang kita PIKIR baik adalah apa yang akan membawa kita kepada kepuasan terukur, misal perasaan tenang seorang anak bahwa ia sudah berbakti kepada orang tuanya, ukuran nominal tabungan yang memberi ketenangan bahwa kita masih bisa hidup dengan enak 1 hari lagi, atau perasaan secured dan kestabilan dalam menapaki hidup. Tapi, bukan itu yang menjadi faktor utama kebahagiaan orang seperti aku.

RASA adalah sebuah kejujuran akan pilihan. Karena RASA tidak bisa dijustifikasi, RASA akan selalu jujur. RASA adalah makna. Tanpanya, aku kehilangan semangat dan tujuan yang kucari. Sejauh apa pun aku melangkah, aku akan kembali ke titik awal. RASA adalah intuisi. Sebuah perasaan “terbimbing” dalam menentukan sebuah arah hidup. Ia adalah hikmah, dan semoga ia adalah hasil dari kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya. Sebuah bukti bahwa dengan semakin menggantungkan segala urusan hidupku kepada-Nya, aku akan semakin berada di dalam bimbingan-Nya, dalam cara yang tidak selalu kasat mata.

Hari ini, seperti 1 bulan yang lalu, aku memilih untuk mengikuti RASA dan PIKIRku. Sekali lagi, bukan decision yang populer, bukan decision yang menggembirakan bagi banyak pihak, tentunya. Tapi setidaknya, aku merasa tenang dan lega sekali. And more importantly, I’m protecting my view. I’m still 100% arfika, not “corrupted yet”, hehe.

Today, I learned that I should decide for myself, always… not for others, even my own parents. Protect my DECISION, protect my VALUES, protect my VIEW, protect my PERSPECTIVE, protect my DREAM, and protect what I BELIEVE… whatever they may take… insya Allah…

Older Posts »